Measuring Stress Level

Mengetahui kadar stress atau perasaan tertekan bukanlah hal mudah. tapi juga tidak terlalu sulit jika kita memiliki tools yang tepat. beberapa konsultan dalam psikologi industri mencoba menangkap aspek ini melalui beberapa test yang bersifat praktis.

Kenapa disebut praktis?

ya, karena tes tersebut bersifat memicu perasaan tertekan kepada para testee atau peserta psikotes secara instant, yang nantinya akan menjadi miniatur kecenderungan dari perilaku peserta tersebut saat menghadapi tekanan.

waduh kok bahasanya teknis amat yah… ?? ┬á baik saya coba memakai bahasa yang simpel. anggap kita sedang bekerja. misalnya saja kerjaan administrasi yang bersifat klerikal. contoh tugas data entry. Sebut saja sifat tugasnya adalah melakukan entry data penjualan ke komputer secara harian. jadi petugas administrasi yang dimaksud akan memasukan hasil jualan setiap outlet cabang yang ada. Yang diinput bukan saja hasil jualan angka akhir, namun juga bersifat spesifikasi, sebut saja termasuk nama produk, sub produknya, tanggal produk ini dibeli, siapa sales promotion yang berhasil menjual, jam berapa terjual, dan sebagainya. nah banyak banget kan yang diinput. bayangkan anda mengerjakan pekerjaan ini setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun. gak ada beda dari waktu ke waktu. pasti stress kan?? hahaha

bagaimana seorang psikolog menangkap kemampuan si peserta diatas dalam tes yang dilakukan hanya beberapa menit atau jam saja ?

jawabnya ya lewat psikotes yang sudah baku dan teruji sahih dan realiabel-nya. diantaranya Kraepelin, Pauli, dan semacamnya. Secara umum tes ini akan mengkondisikan peserta kepada situasi rush atau tergesa-gesa, untuk pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Biasanya tugas penjumlahan atau tambah-tambahan dalam waktu yang singkat. tidak saja harus menempuh volume atau hasil penjumlahan yang banyak, juga minim kesalahan. ini artinya apa..?? stres kan?? ya pasti stress… hihihi

baik miniatur tes sudah diperoleh, sekarang bagaimana menangkap seseorang itu cenderung tertekan atau tidak? berapa lama kadar toleransi stress-nya? bagaimana trend grafiknya? apakah diatas rata-rata? atau jauh dibawah rata-rata? nah area ini tentu urusan konsultan psikolognya dengan manajemen (mau tau ajah.. ­čśë

Mungkin penilaian itu dibahas lain kali, namun tulisan kali ini adalah mencoba mengenalkan keterkaitan salah satu sifat-sifat psikotes dengan penilaiannya.

oke brur.. semangat…

Mengetahui tipe klerikal dan tipe officer dalam psikotes: pekerja tipe apakah anda?

Apa pentingnya mengetahui sisi ini jika anda seorang pelamar ? jawabannya sangat penting. lalu apakah ada fungsinya jika anda bagian dari HR management ? jawabannya sama, sangat penting. Tapi apa perlunya mengetahui sisi ini? baiklah kita bahas satu persatu:

Jika anda seorang pelamar, mengetahui fungsi kerja dari lowongan yang akan anda lamar adalah point pertama dalam proses filterisasi. ini penting agar tidak setiap lowongan harus anda lamar. lihatlah spesifikasi lowongan yang tersedia dengan hati-hati. jika tidak mensyaratkan lulusan akademik tertentu dan tidak tertera kualifikasi pengalaman, lowongan ini bisa berarti:

  1. pekerjaan bersifat klerikal
  2. yang membuka lowongan hanya membutuhkan database untuk menjaring sebanyak-banyaknya kandidat.
  3. lowongan mungkin bersifat MT (management trainee), namun biasanya lowongan MT-pun akan mensyaratkan fresh graduate lulusan akademik tertentu.

nah.. pertanyaannya apakah tipe klerikal tersebut?

klerikal adalah tipe pekerja yang dibutuhkan secara operasional, bersifat daily, dan tidak membutuhkan proses decision dalam pekerjaannya. biasanya dalam istilah tertentu disebut sebagai pekerja “blue collar” atau kerja kasar atau pegawai kelas buruh, dan seterusnya. pegawai pabrikan yang berada di level operator adalah satu contoh yang termudah. pekerjaan ini hanya membutuhkan ketrampilan bakat dalam hal kecepatan, ketelitian, kestabilan, dan daya tahan menghadapi tekanan. dalam psikotes tes ini dibuka dalam tes koran seperti Kraepelin atau Pauli.

Lalu bagaimanakan tipe Officer?

Nah untuk tipikal ini ada sisi lain yang dibutuhkan untuk membantu pekerjaannya, karena biasanya fungsi staff (officer) akan melibatkan proses berpikir yang berguna dalam decision atau keputusan (skala  tertentu). proses ini biasanya harus diungkap dalam tes IQ.

jika proses kerja officer sudah mulai beragam dengan banyak staff dalam satu divisi, maka ada hal lain yang diperlukan untuk filterisasi dalam recruitment. apakah itu? ya ini yang paling penting dari sisi unik setiap individu, apalagi kalau bukan personality. jadi biasanya level officer akan membutuhkan tes IQ, Klerikal, dan Personality.

informasi ini juga dapat membantu anda jika anda melamar suatu pekerjaan. jika hanya di tes klerikal saja tanpa tes IQ maupun personality, berarti jobdesk pekerjaan yang anda lamar adalah pekerjaan klerikal. untuk mengetahui tipe dan sifat tes dalam psikotes silahkan lihat tulisan lain dalam blog ini.

jika anda seorang HR Management, dengan informasi ini tentu akan sedikit membantu dalam proses filterisasi. tidak perlu melakukan tes IQ dan lain sebagainya jika anda hanya membutuhkan seorang klerikal. ibaratnya jika hanya ingin membunuh lalat cukup ditepuk saja, gak perlu kan pakai senjata artileri? ­čśë

oke bloggers semangat, jika membutuhkan pertanyaan, silahkan isi dalam comment. semoga membantu..